Komunitas di Jogja

HUJAN sedang deras mengguyur Jogja saat itu. Pertemuan yang mengumpulkan komunitas yang eksis di Jogja, berlangsung separuh. Kami menanti cukup lama, hingga peserta mencapai kira-kira 50 persen.

Dalam kondisi yang hadir “cuma” segitu, lokasi acara sudah sesak. Di warung bergaya angkringan di Jalan Cik Di Tiro itu, kami dalam kondisi berdesakan 😢

Panitia menyampaikan ucapan terima kasih karena telah hadir sekitar 200 komunitas. Kemudian saya pun tahu, komunitas yang menangani sampah, yang hadir, yang disebut-sebut namanya melalui mik, tidak kurang dari tiga 😳

Berapa jumlah total komunitas yang ada di Jogja? Di kemudian hari, saat saya ditanya mengenai atau terkait hal ini, saya selalu menyebut angka 500. Wow! πŸ‘€

Banyak atribut disandangkan kepada Jogja, tetapi Jogja sebagai “Kota Komunitas”, rasanya nyaris tidak pernah disebut-sebut πŸ˜”

Saya teringat acara itu pada momentum pengumuman blog competition Sound of Borobudur yang diselenggarakan oleh Kompasiana.com bekerja sama dengan Kemenparekraf. Lomba ini berlangsung 17 April hingga 16 Mei 2021. Para pemenangnya, diumumkan pekan lalu, 9 Juni 2021.

Saya termasuk dalam daftar itu. Bahagia? Tentu saja 😘 Namun, eforia saya bukan di sana. Melainkan pada dua nama lain yang saya kenali, Hendra Wardhana dan Nurul Mutiara R A. Keduanya, bergabung di komunitas Kompasianer Jogja (KJOG).

Rasanya, belum pernah terjadi ada tiga nama tampil sekaligus sebagai pemenang di event Kompasiana yang berasal dari satu komunitas yang berafiliasi pada Kompasiana.

Saya terkenang pada masa pembentukannya. Mengontak beberapa nama. Salah seorang adalah Vika Kurniawati. Sangat jelas terbaca, ia “curiga” pada orang asing ini πŸ˜‚ Lalu, kami berjumpa di Perpustakaan Kota, Kotabaru, dan berbicara panjang.

Ketika kemudian komunitas ini telah relatif stabil, saya mencari akal untuk keluar dari jajaran pengurus. Agar regenerasi dapat bergulir dengan baik. Dan, berhasil!πŸ’ƒKini, Vika dan Riana Dewie mengelolanya dengan baik.

KJOG sebagai komunitas, telah beberapa kali meraih apresiasi. Baik di lingkup Jogja, maupun nasional. Relasi B2B-nya, saat ini, juga telah kuat.

Saya di mana?

Saya, di lingkar luar, konsultan ala-ala gitu πŸ€ͺ yang rajin mengisengi mereka. Sejak beberapa waktu lalu saya sudah mulai mengusik mereka. Agar melakukan regenerasi.

Ketika sebuah “sistem” telah relatif solid, itulah penanda bahwa telah tiba saatnya kepemimpinan bergulir.

Beberapa jam yang lalu, sebuah feed Instagram lewat di layar hp saya. Terbaca jelas, “True leaders don’t create followers. They create more leaders.

NB: Untuk pemangku kepentingan Jogja, kapan ya kekayaan komunitas di sini dikelola secara “luar biasa”, sebagai “energi terbarukan”. Sepengetahuan saya, komunitas bloger di Jogja lebih sering berkarya untuk “pihak ibukota” negara. πŸ’™

4 thoughts on “Komunitas di Jogja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *